Sabtu, 07 Januari 2012

Motivasi


Belajar dari Kesuksesan orang Lain
By Kam Imam
Allah telah menentukan Taqdirnya sesuai dengan keinginan dan kemauan-Nya. Namun sukses dan meraih cita-cita bukanlah Given (diberi begitu saja), dan keterbatasan keadaan dalam berbagai hal bukanlah take it for Granted (hanya menerima saja). Banyak hal yang bisa kita lakukan dalam meraih sukses dan cita-cita. Karena Sukses adalah hak semua orang bukan milik perorangan apalagi organisasi dan perusaan tertentu. Firman Allah, “Berdo’alah kepada-Ku, Niscaya akan Aku kabulkan” Kita di wajibkan Ikhtiyar (berusaha) dan Berdoa kepada Allah, baru kemudian Pasrah sepenuh-Nya kepada Allah. Bukan dibalik. Banyak doa minim ikhtiar lalu pasrah dan menganggap itu sebagai taqdir, Keliru!. Lebih parah Lagi hanya pasrah, sewaktu-waktu berdo’a. dan ikhtiar apa katanya Allah.
Belajar dari Kesuksesan orang lain bukanlah meniru, namun mengambil Hikmahnya, Metodenya dan bagaimana ikhtiar, doa dan kepasrahan yang dilakukannya kepada Allah Subhanallah Ta’ala. Pekerjaan, Usaha, dan aktifitas mungkin bisa ditiru namun Rizki, Allah yang akan menentukan. Jadi belajarlah pada hambatan yang dia hadapi, motivasi yang menjadi media dia Sukses dan Cara berdo’a yang dia lakukan. Dengan seperti itu ada upaya Refleksi dan evaluasi terhadap posisi dan potensi dirinya sehingga ada sebuah restorasi diri untuk meraih kesuksesan.
Sederhana aja kita berpikir, siapa sih yang tidak ingin Sukses, sukses dalam pendidikan, Ekonomi, Politik bahkan sukses dalam konteks kita beragama pada Allah yang dalam hal ini sudah jelas panutan dan tauladannya yaitu Rasulullah Sallahu Alaihi Wasallam. Dan beliau bukan hanya contoh sukses Menyebarkan Agama, tapi juga dalam bermasyarakat, berbangsa dan menetralisir berbagai macam konflik social yang terjadi pada zamannya. Sungguh tauladan yang luar biasa yang tak dapat kita bandingkan dengan yang lain, wajib rasanya kita mengikuti berbagai kiprah dan perjalanan beliau dalam konteks kekinian yang lagi kering dari sifat-sifat mulya yang telah dicontohkan beliau.
Berikut ini adalah kiat-kiat bagaimana kita sukses
1.    Sukses adalah rancangan yang direncanakan Tuhan, tidak datang begitu saja, tidak hanya berdo’a dan tidak juga hanya ikhtiar apalag hanya Pasrah dan berpangku tangan. Sukses adalah aplikasi sikap dan tindakan yang terarah dan sesuai dengan apa yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah, Sahabat dan para Ulama sebagaimana disebutkan diatas.
2.    Sukses selalu diawali dengan langkah belajar, perjuangan, kerja keras, kerajinan dan ketekunan. Orang berjiwa sukses belajar dari kesalahan, tidak suka mengeluh tapi berusaha selalu untuk memperbaiki keadaannya.
3.     Sukses butuh kecekatan kerja, Disiplin waktu, methodology yang kreatif dan Inovatif berbeda dengan cara pada umumnya namun strategis dan memiliki jalan pintas yang luar biasa dengan ide yang brilian dan cemerlang.
4.    Sukses adalah mereka yang yakin dan percaya pada kemampuan dirinya. “Laysal fataa man taquwlu hadza abiy Innamal fataa man taqulu ha ana dza”. Artinya “pemuda bukanlah mereka yang mengatakan ini ayahku, namun mereka yang berani bilang inilah aku”

Jumat, 17 Juni 2011

info undangan

Hal      : Undangan
Sifat    : Penting

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Teriring Salam dan do’a semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah Swt, LancarRizkinya dan Sehat Selalu. Amin

Sehubungan dengan rencana Haflatul Imtihan oleh Yayasan Almiftah Madrasah Miftahul-Ulum Batang yg akan dilaksanakan pada tanggal 22-23 JUNI 2011, kami selaku bidang komunikasi dan informasi memberitahukan Bahwa dalam rangka merajut tali Silaturahmi dan mempererat ikatah Ukhuwah antar sesama Alumni Al-Miftah kita, maka kami memberitahukan kepada teman2 Alumni untuk hadir pada:

Hari                              : Jum’at
Tanggal                        : 24 Juni 2011
Jam                               : 15.00 - Selesai
Acara                            : Evaluasi kegiatan Ikamuba,
                                        Temu Kangen dan Ramah Tamah

Maka dari itu, besar harapan kami teman-teman Alumni Ikamuba hadir pada acara Silaturahmi tersebut.
Demikian surat undangan ini kami buat, Atas Perhatiannya disampaikan terima Kasih.

Billahi taufiq wal Hidayah
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Batang-Batang 18 Juni 2011


          dto


Kam  Imam, SPd.
                                                                                         Kabid Infokom Ikamuba

Self-Reliance


Review of R.W Emerson’ Self-Reliance 
Resumed by
Kam  Imam
Depend on the Emerson’s essay in the literature book; "The intelectual American Tradition" His thought is divided into Three parts:
First; the importance of self reliance (Paragraph 1-17) Emerson begins his major work on individualism by asserting the importance of thinking for oneself rather than meekly accepting other people's ideas. As in almost all of his work, he promotes individual experience over the knowledge gained from books: "To believe that what is true in your private heart is true for all men. that is genius." The person who scorns personal intuition and, instead, chooses to rely on others' opinions lacks the creative power necessary for robust, bold individualism. This absence of conviction results not in different ideas, as this person expects, As a whole, it promotes self-reliance as an ideal, even a virtue, and contrasts it.
Second; self-reliance and the individual (paragraphs 18-32) Emerson gives a little example that we must "Trust thyself," to rely on others' judgments is cowardly, without inspiration or hope. A person with self-esteem, on the other hand, exhibits originality and is childlike unspoiled by selfish needs. It is to this adventure of self-trust that Emerson invites us: We are to be guides and adventurers, destined to participate in an act of creation modeled on the classical myth of bringing order out of chaos.
Third; self-reliance and society (paragraphs 33-50). Our age yields no great and perfect persons. We want men and women who shall renovate life and our social state, but we see that most natures are insolvent; cannot satisfy their own wants, have an ambition out of all proportion to their practical force, and so do lean and beg day and night continually. Our housekeeping is mendicant, our arts, our occupations, our marriages, our religion we have not chosen, but society has chosen for us. We are parlor soldiers. We shun the rugged battle of fate, where strength is born.

TITIK BALIK PERADABAN SAINS, MASYARAKAT, DAN KEBANGKITAN KEBUDAYAAN
oleh Rublik Opini pada 11 Juli 2010 jam 3:58

Dewasa ini, kita telah menemukan krisis multidimensional yaitu dimensi-dimensi intelektual, moral, dan spriritual yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah perjalanan umat manusia. Kini dimensi tersebut telah melahirkan berbagai fenomena sosial dan masyarakat pada tingkat yang sangat memprihatinkan seperti kejahatan tindak kekerasan, kecelakaan, bunuh diri, alkoholisme, penyalahgunaan obat-obatan, cacat mental, penyakit kejiwaan dan sebagainya.Dampak krisis terhadap lingkungan berupa pencemaran akibat limbah kimia dan nuklir sebagaimana terjadi di negara-negara maju. Akibat limbah tersebut telah mengganggu sanitasi yang merupakan habitat murni potensial bagi seluruh kehidupan. Air yang kita minum dan makanan yang kita makan telah tercemar oleh berbagai bahan kimia beracun. Makanan sintetis yang dikemas sebagaimana dipasarkan di supermarket, sangat merajalela. Terlebih lagi pestisida, plastik, dan bahan-bahan kimia lainnya dipasarkan dengan bebas.

Kemerosotan kualitas lingkungan alam, telah dibarengi dengan meningkatnya masalah kesehatan bagi masing-masing individu. Sementara penyakit menular dan penyakit kekurangan gizi merupakan pembunuh terbesar di negara-negara dunia ketiga. Negara-negara industri diserang penyakit-penyakit hati, kanker, dan stroke sebagai pembubuh utamanya. Pada sisi psikologi, depresi yang hebat (schizofrenia) dan penyakit-penyakit psikiatris lainnya tampak muncul dari kemerosotan lingkungan sosial kita. Berbarengan dengan munculnya berbagai patologi sosial, kita juga menyaksikan adanya anomali ekonomi yang mengacaukan semua ekonom dan politisi terkemuka. Inflasi yang tinggi, pengangguran besar-besaran, dan distribusi pendapatan serta kekayaan yang tidak merata telah menjadi kultur ekonomi nasional. Kecemasan yang timbul di masyarakat umum dan para wakil rakyat diperburuk oleh persepsi bahwa sumber energi dan sumber alam yang merupakan bahan dasar dari semua aktivitas terkuras habis. Para ahli dan politisi tidak tahu lagi harus mulai dari mana terhadap berbagai ancaman multidimensi - habisnya energi, inflasi, pengangguran, kejahatan, penyakit, pencemaran lingkungan, gangguan sanitasi, kualitas pendidikan dan lain sebagainya.

Keadaan jaman telah sangat mengejutkan karena orang-orang yang seharusnya ahli dalam berbagai bidang, tidak lagi mampu menyelesaikan masalah-masalah mendesak yang telah muncul di dalam bidang keahlian mereka. Ekonom tidak mampu memahami inflasi, dokter sama sekali bingung tentang penyebab-penyebab kanker, psikiater dikacaukan oleh depresi yang hebat (schizofrenia), polisi tidak berdaya menghadapi kejahatan yang meningkat, dan sebagainya. Pemerintah telah berpaling kepada para akademisi untuk berkonsultasi baik secara langsung maupun melalui tenaga pemikir yang dibentuk sebagai penasihat pemerintah dalam berbagai kebijakan. Bahkan pemerintah telah mengangkat banyak sekali para ahli hingga profesor dari kalangan perguruan tinggi untuk duduk bersama dalam menyelesaikan berbagai masalah. Elite intelektual ini merumuskan “pandangan akademik utama” dan biasanya pemerintah sepakat tentang kerangka konseptual yang mendasari nasihat mereka. Namun The Washington Post memuat cerita yang berjudul “The Cupboard of Ideas is Bare”, yang menceritakan tentang pemikir-pemikir besar yang mengaku bahwa mereka tidak mampu lagi memecahkan persoalan-persoalan kebijakan yang paling mendesak bagi bangsa mereka. Tak seorangpun dari mereka mengenali persoalan sebenarnya yang mendasari krisis pemikiran itu. Kenyataan bahwa sebagian besar akademisi menganut persepsi-persepsi realitas sempit yang tidak memadai untuk menyelesaikan persoalan-persoalan besar pada jaman sekarang. Persoalan-persoalan ini, merupakan persoalan-persoalan sistemik, yang berarti bahwa persoalan-persoalan itu saling berhubungan dan saling tergantung. Persoalan-persoalan itu tidak dapat dipahami dalam metodologi yang terpecah-pecah yang merupakan karakteristik disiplin akademik dan ciri badan pemerintah. Pada saat kita memeriksa sumber-sumber krisis kultural, ternyata tokoh-tokoh pemikir kita menggunakan model-model konseptual yang telah kadaluwarsa dan variabel-variabel yang tidak relevan.

Untuk memahami krisis budaya yang multisegi, kita perlu mengambil pandangan yang sangat luas dan memandang situasi kita dalam konteks evolusi budaya manusia. Itu berarti kita harus mengubah perspektif kita dari awal abad kedua puluh satu ke suatu rentang waktu yang mencakup ribuan tahun yang lalu yaitu dari pengertian struktur sosial statis hingga persepsi pola-pola perubahan dinamis.

Dilihat dari intensitas kerusakan lingkungan alam dan lingkungan sosial, pola-pola budaya Toynbee nampak sangat relevan karena ternyata hal itu merupakan akibat dari sejumlah transisi budaya. Diantara transisi-transisi itu terdapat tiga komponen yang yang sangat menggoncangkan dasar kehidupan manusia dan akan mempengaruhi sistem sosial, ekonomi, dan politik. Transisi pertama adalah runtuhnya sistem patriarkhal yang didasarkan pada sistem filsafat, sosial dan politik dimana pria dianggap lebih memegang peran dibandingkan dengan wanita. Akan tetapi disintegrasi patriarkhal mulai terlihat dengan adanya gerakan feminis yang merupakan salah satu arus budaya yang akan memberikan pengaruh kuat terhadap evolusi berikutnya. Transisi kedua, runtuhnya bahan bakar fosil yang paling dibutuhkan oleh teknologi modern saat ini. Dari perspektif historis evolusi budaya, jaman bahan bakar fosil menjelang habis dan puncak kecilnya sekitar tahun 2000 dan akan habis menjelang tahun 2300. Dasawarsa ini akan ditandai transisi dari jaman bahan bakar fosil ke jaman bahan bakar surya yang akan melibatkan perubahan-perubahan radikal dalam sistem ekonomi dan politik. Transisi ketiga, berhubungan dengan nilai budaya yang disebut dengan perubahan paradigma yang akan mempengaruhi pemikiran, persepsi, dan nilai-nilai dalam pembentukan suatu visi realitas baru. Paradigma yang menganggap metode ilmiah segala-galanya harus ditransformasi kebentuk pengetahuan intuitif yang lebih berorientasi pada wawasan sosial dan lingkungannya. Dengan demikian akan ada hubungan yang selaras antara berbagai kehidupan dengan alam. Sebagaimana falsafah Cina yang menitikberatkan pada keseimbangan alam antara Yin dan Yang dimana Yang berada disisi pengetahuan rasional, analisis, dan ekspansi sementara Yin sebagai sosok feminim kita yaitu kearifan intuitif, sintesis dan kesadaran ekologis. Dengan ini kita akan menyadari betapa selain adanya pengetahuan ilmiah dengan segala keterbatasannya, terdapat juga pengetahuan intuitif atau kesadaran yang sama sahih dan terpercayanya bahkan akan membangun peradaban baru yang seimbang.

Paper; American Woman Studies


The effects of Sexism on the public Institution
by
Kam Imam

As we know well that women almost all aspects get discrimination and never end up only either private life formalized by law, custom or religion or  public institution such us government education, the health care system, bussiness the court and and law enforcement.
We could see in the economy, most women are discriminated against, many are poor caused the inequality that happened around them. In government and  to a large extent in politic, women are nearly powerless because the strategic position to make a policy related to the societal life especially the women need has been hold by male, before the law, they are discriminated again and deprived of many rights that aren’t even recognized, in health care they are exploited, policy maker didn’t put women as human being that always help what the scientifiec need, but put them as the object of capitalism which merely be consumer of the medicine.
Unfornately, in each instance, the discrimations are denied or justified by the same body of myth and mystification that governs women’s personal lives and also in the public institution. Sometime it is very difficult to find the solution in determine what the best for women is. The built system in the patriarchal is so strong, if we are against it like we face with common culture prevailing by society many years so that sometime we are looked on crazy.
Topic of sexism on the public institution is to tell us about the position of women in economy, the role of women in politics and medical care, the case of women in sexual harassment, affirmative action related to the law, equal right and another aspect how to make this phenomena does not merely keep in mind so that the quality between women and men are running without any discrimination in all society, public even in their mind.
The fact that in daily life especially culture life that has formed paradigm in patriarchal thinking way and a result of external condition given about how the subliminal effect develope and improve in our society about women without any counter balance again so that make the differenciation between men and women so hard, it is not recognized as the first problem continuing nowadays. For instance about Women’s relationship to a job or career is different from a man’s, this paradigm said as well which one is suitable for man but not for women and on the contrary, Women as a second and has a primary job, it means that go public or have job outside for women is not primary job, it was just for adding an activities for them because the primary job has waited for in home, another things has influenced the subliminal effect is Culture Hegemony and liberated commitment Unconsciousness women and their willingness to follow their mom and grandmothers
So on in the another life of women like in politics and medical care, Medical care system both of istitution and industry affect the quality of women life as profoundly as any other, and yet women have little influence over the practice of health care in america, delivery service, costs, research, laws, or medical training.
We can draw about the positive fact about women and her relationship together with medical care system that Women are part of the medical care system, Women as majority of worker and consumer, Women has double roles in the system & home, Most patient communication for and about family members flows through women and The system depend on women; raw material for experimentation and research, but ironically the reality which they feel about the role and what the best made for them didn’t reach well, it is we look on as negatif fact of women in the politics and the medical care system because medical care system are controlled and made by male, Women didn’t get the first treatment in healthy even always blame in their healthy, Women isn’t first person in making decision of her or son health, The doctor always communicates with men first to decide what must they do for the patients and what make the women hurt is Policy maker of healthy depend on male  that sometime unknown whether the woman need in their healthy and daily life protection.
To reduce discrimination on the women, economic is one of important thing to decide  where the position of woman in patriarchal culture is. Women position in american economy didn’t take it for granted but according to the interest, ability and acquired skill Both women’s & mens’s choices are limited by sex roles. It happens almost in societies that the sexual division of labor is natural and is determided by the biological differences between the sexes. In the economic system there is no different between men and women, everyone plays two basic roles; producer and consumer. So that women has to have abilty in supporting theirselves by education they joined and awareness of their position that must be equal together with men in order they can improve and develop their status that between men and women have chances and the same abilities. Although in job they always have sexual harassment and double standart in patriarchal that they have primary job as burden in home but at least it is to show that women is not secondary, supporting pathner and Etc.
How the law answer, negotiate and find the way to overcome inequality that happen to women in our society life?. It is not easy to answer this question. We know that laws are rules of the game consist of a collection of rules and procedures codified, formalized, made explicit which the conceptual framework are written, such a set of values, attitudes and general principles toward people, community and government. finally the whole system of legislation, courts, procedures and people that is the concrete reflection of the abstract concepts will be decided by people who hold power, concervatism people, in this context is more by male, moreover our legal system relies heavily on precedent, continuity, conservatism to give it stability and to ensure orderliness, credibility and respect.
Conclussion
The discrimination in the public institution is the reality of subordination on the women still happen nowadays, the solution of this problem are
1.      how women show their capacity in public that what men can do, so can women, Take the competition with men especially in the institution which mainly subject make a regulation  to be law product which was, being and will be done by society.
2.      Awareness of men in patriarchal culture is the best solution to reduce even to lose the discrimination in the public institution. they must change their paradigm if women is supporting system to be pathner system  in order women and men have equal, same civil right, and same chances to have role in the public institution.
3.      The law is a powerfull weapon in the struggle for social, political, and economic equality between woman and men. The law in patriarchal culture is not merely intrepreted suitable with what men need and think but more considerable what women need.

References
Abramovit, mimi. 1996. regulating the live of women (rev.ed). Boston. south End Press
Ruth, Sheila, 1990. Issues in Feminism. California. mayfield publishing Company